Definisi Miskin dan Hakikat Kekayaan Jiwa
Definisi Miskin dan Hakikat Kekayaan Jiwa merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 8 Rajab 1447 H / 28 Desember 2025 M.
Kajian Hadits Tentang Definisi Miskin dan Hakikat Kekayaan Jiwa
لَيْسَ الْمِسْكِينُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوفُ عَلَى النَّاسِ فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ قَالُوا فَمَا الْمِسْكِينُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا.
“Bukanlah orang miskin itu mereka yang berkeliling mendatangi orang-orang lalu merasa cukup dengan satu atau dua suap makanan, serta satu atau dua butir kurma.”
Para Sahabat bertanya, “Lalu siapakah orang miskin yang sebenarnya itu, wahai Rasulullah?”
Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Yaitu orang yang tidak mendapatkan kecukupan yang bisa mencukupi kebutuhannya, namun keadaannya tidak disadari oleh orang lain sehingga ia tidak diberi sedekah, dan ia pun tidak meminta-minta sesuatu kepada manusia.” (HR. Muslim)
Hadits ini mengandung celaan terhadap perilaku meminta-minta kepada manusia. Orang miskin bukanlah pengemis yang sering kita jumpai di jalanan, yang terkadang justru memiliki kekayaan di kampung halamannya. Miskin secara istilah adalah orang yang memiliki mata pencaharian, namun hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidupnya.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an mengenai kisah Nabi Khadir dan Nabi Musa ‘Alaihimassalam saat menaiki perahu:
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ…
“Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut.” (QS. Al-Kahfi [18]: 79)
Ayat ini membuktikan bahwa orang miskin pun bisa memiliki sarana kerja seperti perahu, namun mereka tetap dikategorikan miskin karena penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan. Dalam konteks masa kini, seseorang yang memiliki kendaraan untuk bekerja namun memiliki banyak tanggungan seperti nafkah anak dan orang tua, sehingga gajinya tidak mencukupi, tetap disebut orang miskin. Hal ini berbeda dengan orang yang mengalami kesulitan finansial akibat gaya hidup hedonis atau terjerat cicilan barang mewah.
Bab Hakikat Kekayaan adalah Kekayaan Jiwa
Selain menjelaskan tentang kemiskinan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga meluruskan persepsi manusia tentang kekayaan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kaya jiwa atau kaya hati artinya memiliki sifat qanaah, yaitu selalu merasa cukup atas pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak mengharapkan lebih dari apa yang ada. Kekayaan hati ini hanya bisa diraih apabila seseorang lebih mengharapkan kehidupan akhirat daripada dunia.
Mengenai orientasi hidup ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai ambisi utamanya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, memudahkan segala urusannya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun, barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai ambisi utamanya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan kefakiran membayang di depan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. At-Tirmidzi)
Orang yang hatinya terpaut pada akhirat akan mensyukuri apa pun yang diterimanya. Ia cenderung merasa takut apabila memiliki harta berlebih karena hal itu akan memperberat hisabnya pada hari kiamat kelak. Dengan demikian, ia lebih mudah meraih kebahagiaan melalui rasa syukur.
Imam Asy-Syafii Rahimahullah pernah berkata:
“Jika engkau memiliki hati yang penuh qanaah (merasa cukup), maka engkau dan raja dunia adalah setara.”
Inilah hakikat orang kaya yang sebenarnya. Orang kaya adalah mereka yang memiliki kekayaan hati. Ia tidak pernah mengharapkan bantuan orang lain karena merasa cukup dengan segala pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, orang yang memiliki harta berlimpah namun hatinya selalu merasa kurang, akan terjebak dalam perilaku buruk seperti korupsi. Hal tersebut merupakan akibat dari hati yang miskin karena keinginan dunia yang terlalu besar.
Bab Dibencinya Tamak Terhadap Dunia
Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ
“Anak Adam akan menua, namun ada dua hal yang akan tetap muda padanya: tamak terhadap harta dan semangat untuk panjang umur.” (HR. Muslim)
Setiap manusia akan mengalami proses penuaan secara fisik. Namun, sifat tamak terhadap harta dan keinginan untuk hidup lama di dunia sering kali tidak ikut meredup. Keinginan terhadap harta dan panjang umur tidak serta-merta berarti seseorang cinta dunia dalam arti negatif. Namun, hadits ini merujuk pada rasa tamak dan rakus yang membuat seseorang tidak peduli lagi pada batasan halal dan haram.
Ketamakan terhadap harta dan kedudukan sangat membahayakan agama seseorang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan perumpamaan dalam hadits beliau:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ
“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan pada sekelompok kambing lebih merusak daripada ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya.” (HR. Tirmidzi)
Agar hati terhindar dari sifat tamak dan rakus, seseorang harus lebih mengharapkan kehidupan akhirat daripada dunia. Selain itu, penting untuk melihat kepada orang yang kondisi hidupnya lebih susah agar tidak meremehkan nikmat yang telah diberikan Allah ‘Azza wa Jalla.
Bab Sifat Manusia yang Tidak Pernah Puas
Terdapat sebuah bab yang menjelaskan bahwa kalaulah anak Adam memiliki dua lembah harta, ia pasti akan menginginkan lembah yang ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa puas.
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا
“Kalaulah anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga.” (HR. Muslim)
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Definisi Miskin dan Hakikat Kekayaan Jiwa” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55934-definisi-miskin-dan-hakikat-kekayaan-jiwa/